Rabu, 30 September 2020

Tugas bahasa Indonesia "Teks Cerita Sejarah"

                                                            Bangkit dari Keterpurukan

Karya: Bernadetta Dewi / XII MIPA

SMA Virgo Fidelis Bawen

    Namaku Bernadetta Dewi, orang-orang biasa memanggilku Detta. Aku terlahir sebagai anak tunggal. Kini aku duduk di banku kelas dua belas di SMA Virgo Fidelis Bawen. Sebelum menjalani kehidupanku yang sekarang, dulu aku pernah melalui lika liku kehidupan bahkan dulu aku sempat menyerah pada keadaan. Mungkin orang lain mengira bahwa aku yang terlahir sebagai anak tunggal adalah sesuatu yang indah karena selalu mendapat kasih sayang dari orang tuanya, salah. Hidup itu tak seindah ekspektasi. Bahkan aku harus menanggung penderitaan yang selama ini aku rasakan sendirian, aku enggan membagikan pada orang lain bahkan itu orang tuaku sendiri.

    Pada tahun 2006 aku mulai masuk taman  kanak-kanak. Sangat menyenangkan karena mengenal dunia luar selain keluarga. Mendapat teman baru, belajar banyak hal, serta belajar mandiri. Ketika berada di taman kanak-kanak aku mulai mengembangkan potensi yang aku miliki. Pernah aku melihat piagam-piagam ku ketika berada di sini, menggambar, melukis, mewarnai, menari, dan  menyanyi semua pernah kumiliki.

    Pada tahun 2008, aku mulai masuk sekolah dasar.  Aku mulai susah beradaptasi, meskipun berada di lingkungan tempat tinggal sendiri. Lain halnya ketika berada di taman kanak- kanak yang berada di luar tempat tinggal sendiri. Ketika di sekolah dasar, teman-temanku membawa pengaruh negatif. Meskipun aku banyak berjuang banyak demi mendapatkan prestasi ataupun mengubah sikapku, namun mereka mematahkan semangatku. Pernah, ketika aku duduk di kelas VI aku pernah menjadi ketua penggalang dalam reguku. Namun, mereka malah seakan-akan menjatuhkanku. Aku pernah dibully bahkan nyaris takut pergi keluar rumah, orang tuaku yang tahu pun menemui teman-temanku dan mereka menyisipkan dalam namaku ‘anak manja, tukang pamer, anak emas, anak kesayangan’.  Kata terakhir aku ingin mentertawainya, apakah ada orang tua membenci anaknya? Adalah yang tidak menyayangi anaknya? Sesibuk apapun orang tua pasti akan menyayangi anaknya. Sejak saat itu, aku menjadi orang yang introvert.

    Ketika aku mulai SMP tahun 2014, aku sangat senang karena dapat berpisah dengan teman-teman SDku. Aku harus beradaptasi lagi di tempat yang baru. Bertemu dengan anak-anak yang berasal dari berbagai daerah. Mulai belajar menyesuaikan diri dengan anak-anak ‘gaul’ dibangdingkan dengan aku yang berasal dari desa. Ternyata ketika SMP lebih menyenangkan karena mempunyai teman, bahkan teman dari lawan jenis. Hari pertama sekolah rasanya malu setengah mati. Banyak pikiran yang melintas di otakku. Apakah aku punya teman? Apakah mereka membullyku? Apakah gurunya killer? Apakah aku dapat mengikuti pelajaran? Dua point terakhir mungkin terdengar memalukan. Tetapi pada dasarnya memang aku tak terbiasa dibentak, jadi aku harus waspada tak membuat masalah. Hari pertama Masa Orientasi Siswa, ternyata aku mempunyai teman perempuan yang pemalu sama seperti diriku. Kami berkenalan, bahkan sekelas. Setelah selesai MOS, kami menjadi teman sekelas di kelas tetap. Aku mulai mempunyai sahabat laki-laki, mungkin aku mulai mengenalnya sebagai seorang kakak.     

    “Tenang, Dett. Aku bawa buat kita berdua,” ucapnya.

    Aku terkekeh mendengarnya. Entahlah, mengapa dia bisa menjadi teman semejaku, yang nyaris pendiam bahkan dikenal anti sosial.

    Jika berfikir hidupku berubah, kenyataanya salah. Temanku masih seperti itu-itu saja. Bahkan ketika pembagian kelompok belajar, ketua kelompokku judes denganku. Dia terang-terangkan tak menyukaiku, bahkan menyebarkan rumor-rumor aku berpacaran dengan teman semejaku. Yah selalu begitu drama remaja. Biarkan saja selagi belum terlalu merugikan. Fungsi mulut hanya dua, untuk makan dan membicarakan orang lain tentunya.

    Hari demi hari terus berjalan, seperti halnya dengan perjalanan hidupku. Aku mulai mempunyai sahabat kakak kelas, teman ektrakurikuler assencio (paduan suara di SMPku). Jika mengira aku orang yang pandai, salah besar. Ketika kelas VII SMP, aku cenderung pemalas, entah kenapa aku bisa masuk sepuluh besar di kelas tujuh. Setelahnya, aku banyak-banyak besyukur karena ayahku memberi petuah, bahwa hasil harus disertai dengan usaha dan doa.

    Setelah aku mulai beradaptasi dengan lingkungan baru, aku mulai mengembangkan bakatku. Aku mengikuti paduan suara dan mengikuti les piano. Ketika berada di luar lingkungan sekolah, aku juga mulai aktif mengikuti misdinar di gereja, sayangnya bukan Paroki Ambarawa ataupun Girisonta. Ayahku yang tinggal di daerah Nawangsari, membuatku juga harus sering beradaptasi di lingkungan sana. Untungnya teman-temanku di lebih mendukungku.

    Tahun 2015, kehidupanku berubah total berputar 1800. Tuhan menguji keluargaku, tepat setelah aku mengalami masa pubertas, aku mulai sakit-sakitan. Para dokter susah mendiagnosaku. Pernah aku didiagnosa mempunyai penyakit Demam Berdarah, padahal aku tinggal di lingkungan yang bersih. Pernah juga didiagnosa Demam Tifoid (Tifus), mungkin itu benar karena dulu aku suka jajan sembarangan. Akhirnya aku selalu keluar masuk rumah sakit dengan diagnosa yang sama. Aku tahu sebenarnya orang tuaku mengeluh, meskipun mereka secara tak terang-terangan mengatakannya, akhirnya aku diam-diam menahan sakit ini sendirian. Ketika Ulangan Kenaikan Kelas, aku kembali terbaring di rumah sakit. Dengan diagnosa yang sama juga, bahkan transfusi darah sebanyak dua kantong. Hidupku banyak berubah, aku kembali murung, kembali mengunci diri dari lingkungan luar, bahkan minder dan putus asa hingga aku kehilangan berat badanku hampir dua puluh lima kilo.

    Ketika kelas VIII, aku memutuskan keluar dari paduan suara. Sebenarnya pembimbingnya kebingungan karena lomba tinggal 2 bulan, sedangkan persiapannya sudah sangat lama. Akhirnya, mereka menerima keputusanku untuk keluar dari paduan suara. Aku mulai mengalami keterbatasan untuk sekolah, rasanya badanku sangat susah diajak bekerja sama. Jujur saja, aku ingin kembali normal seperti anak-anak lainnya.

    Tuhan masih terus memberi cobaan kepada keluarga kami. Tetap saja, aku selalu saja keluar masuk rumah sakit. Hinga pada Senin, 7 Desember 2015, duniaku terasa berhenti berputar. Pagi hari, ketika akan berangkat sekolah karena Ulangan Akhir Semester aku kejang. Ibuku sampai pingsan melihatku, ayahku menangis, bahkan para warga kalang kabut mencari bantuan. Lama aku pingsan sekitar lima belas menit. Di saat aku pingsan, aku mendengar suara nenekku yang sudah meninggal. Seperti halusinasi memang, tetapi aku terbangun mendengarnya.

    “Nok, ayo bangun. Lihat kamu pasti sembuh, percaya pada Tuhan. Jangan putus asa. Ayo bangun segera lihat ayah ibumu menangis karenamu.”

    Kata-kata itu terus terulang hingga aku terbangun. Pertama kali aku melihat ibuku yang bangun dari pingsannya juga sambil menangis, serta aku berada dalam dekapan ayahku yang sedang menangis. Lalu aku digendong tetanggaku dan dilarikan ke rumah sakit. Saat tiba di RS Bina Kasih, dokter mendiagnosa bahwa aku mempunyai penyakit jantung. Pertahanan kewarasanku runtuh dalam sekejap. Aku melihat orang tuaku yang tersenyum palsu ke arahku, sedangkan aku hanya terisak dalam diam. Mulai saat itu, aku selalu beroda. Aku teringat kata-kata romo ketika Khotbah.

    “Jika kalian menunda bertobat, lalu kapan akan melakukan pertobatan? Bayangkan jika suatu saat Anda terbangun tetapi sudah tidak bisa menatap lingkungan sekitar.”

    Setelah mengingat Romo yang mengatakan demikian, aku selalu mendekatkan diri pada Tuhan dan juga melanjutkan menulis Diary tentang perjalanan hidupku.

    Sekitar lima hari aku dirawat di RS Bina Kasih, tetapi tak ada perubahan. Kemudian orang tuaku memindahkan aku di RSUD Ambarawa. Ibuku diam-diam mengecek laborat ke Prodia, setelahnya keluargaku mengetahui penyakitku yang sebenarnya. Ibuku nyaris bunuh diri karena melihatku yang seperti ini, yang bahkan penyakitnya tak bisa disembuhkan. Akhirnya ayahku memindahkan aku ke RS Elizabeth.

    Di sana aku mengenal suster kepala yang memberikanku kalung Rosario yang sudah diberkati. Aku curhat dengannya bahwa aku menyerah akan hidupku, lalu Suster menasehatiku.

    “Kalahkan penyakitmu dengan doa dan semangat,” kata Suster.

    Hari demi hari kuisi dengan perbanyak bersyukur akan keadaanku. Meskipun aku selalu sesak nafas, aku diam saja. Aku mulai memasuki semester baru, namun keadaanku mulai lemah. Ketika 20 menit berada di sekolah, aku harus diantar pulang. Rasanya benar-benar melelahkan menjalani hidup dengan keterbatasan. Akhirnya pada bulan Februari 2016, aku dinyatakan kritis. Sebelum kritis, aku sempat dilarikan ke RS Elizabeth karena sesak nafas. Ketika aku merasakan sakit pada perutku, aku selalu menangis. Sungguh rasanya sakit sekali. Dokter pun memutuskan untuk melakukan USG, ternyata ginjalku bengkak dua cm. Satu minggu aku tak tertidur sama sekali, mungkin banyak yang mengatakan jika mendekati ajal akan demikian. Selama seminggu itu aku selalu menangis dalam berdoa, akhirnya sebelum aku kritis tak sadarkan diri di ICU, aku meminta pada orang tuaku agar aku diberikan minyak suci. Ibuku yang mendengarku mengatakan demikian, tentu saja menangis meraung-raung.

    Setelahnya aku tak sadarkan diri selama 5 hari.

    Kata ayahku, hari ke lima orang tuaku mulai putus asa melihatku terbaring tak berdaya hanya bermodalkan alat pendeteksi jantung untuk melihat aku masih hidup atau tidak. Akhirnya mereka meminta untuk diberikan Sakramen Minyak Suci. Keluargaku pun katanya datang melihatku menerima sakramen. Mungkin keajaiban benar-benar terjadi dalam hidupku. Setelah aku menerima Sakramen Minyak Suci, aku bisa melewati masa kritisku. Para perawat dan dokter menangis melihatku, mereka memberikanku banyak benda.

    “Cepat sembuh, kamu harapan ayah satu-satunya,” ucap ayahku yang menangis sambil memelukku.

    Setiap hari aku selalu ditemani dan disemangati. Bahkan guru SMP, guru BK yang sudah aku anggap seperti ibuku sering datang menjengukku padahal jauh. Mereka sering datang menjenguk dan berdoa. Aku senang karena mereka semua menyayangiku. Akhirnya aku memutuskan untuk semangat lagi demi orang tuaku. Demi membahagiakan mereka.

    Hari demi hari, aku lewati dengan semangat yang baru. Namun, cobaan belum berhenti sampai di situ saja. Takdir terus mempermainkan keluarga kami. Setelah aku keluar dari RS Elizabeth, seminggu setelahnya aku dibawa ke RSUP Kariadi. Berbeda lagi, kali ini diagnosanya lebih spesifik. Aku dinyatakan harus melakukan kemoterapi agar menghambat perkembangan penyakitku. Memang tak bisa disembuhkan namun bisa dihambat pertumbuhannya. Aku pun menjalani kemoterapi selama tiga tahun sebanyak tiga belas kali.  

    Kelas VIII aku harus mengulang karena sering ijin. Untungnya sekolah memakluminya. Tahun kedua di kelas VIII aku mulai belajar lebih giat, aku mendapat peringkat satu di kelas dan mendapat peringkat paralel ketiga. Aku sangat senang, dengan ini mungkin orang tuaku akan bangga kepadaku. Aku mendapat hadiah dari dokterku, mereka membelikanku boneka, novelet, dan novel.

    Aku mulai menerima keadaan dan menjalani hari seperti biasa. Ketika aku masuk SMA, sebenarnya aku ingin masuk SMA negeri. Namun, ibuku melarang karena sistem lima hari sekolah bahkan direkomendasikan oleh Bruder Kepala Sekolah agar ke SMA Don Bosco. Tentu saja disambut baik dengan dokterku yang rumahnya dekat SMA Don Bosco. Namun, aku memilih SMA di sini karena letaknya strategis, aku tak menyesal meski tak masuk negeri ataupun Don Bosco.

    Aku mulai mudah menyesuaikan diri untuk beradaptasi ketika SMA, namun ketakutanku muncul. Minder. Aku melihat banyak teman yang aktif dan energik. Apalah dayaku yang hanya bisa melihat mereka. Sedikit demi sedikit aku mulai mengubah ketakutan dan keterbatasanku. Buktinya aku dulu yang tak sanggup berlari, namun sekarang aku dapat melakukannya. Sebenarnya aku ingin mengikuti paduan suara lagi, tetapi melihat aku yang sering ijin sekolah maka aku mengurungkan niatku.

    Ternyata teman-teman SMA lebih menyenangkan dibanding teman-teman SD maupun SMP. Mungkin karena pemikirannya yang mulai dewasa. Meskipun aku mudah beradaptasi tetapi tetap saja masih mengurangi pergaulan karena takut kalau mereka ternyata tak menyukaiku. Aku banyak berterimakasih dengan temanku yang sekarang, di saat aku terjatuh sakit lagi yang kesekian kalinya. Mereka tetap menyempatkan untuk menjengukku.

    Kini aku sadar, bahwa keterbatasan dapat diubah dengan usaha. Kalahkan semuanya dengan doa dan semangat, serta perbanyak bersyukur tentang apa yang menimpa atau dilalui dalam hidup. 

Tidak ada komentar:

Posting Komentar